Monolog Mau Mati
Ditulis oleh Nathanael di/pada September 3, 2007
Aku : “Aku mau mati…..hidup ini terlalu berat”
Aku : ”Pengecut!! Mati itu mudah, melawan hidup itu yang berat. Enak sekali kau lari dari tugasmu.”
Aku : ”Tahu apa kamu? Tahu apa tentang tugas? Aku yang menghadapi hidup, kamu? Apa yang kamu lakukan hah? Berceramah, mengkritik, menasihati.”
Aku : ”Kamu sendiri yang memilih tugas ini, bukan aku. Belum sebulan, dan kamu sudah akan mengingkari arti hidupmu?”
Aku : ”Aku tidak mengingkarinya. Aku hanya menginginkan beberapa penyesuaian.”
Aku : ”Penyesuaian atau kesenangan? Kamu tidak bisa membohongiku. Aku ini kamu”
Aku : ”Terserah kamu menyebutnya. Tapi hidup tidak bisa terus begini. Aku tidak mengingkari untuk apa aku datang, tapi aku juga tidak ingin mengingkari yang datang kepadaku”
Aku : ”Ya, terima saja semua yang datang kepadamu. Terima saja semua. Setelah itu, mintalah dijemput karena kamu pasti kehilangan jalanmu.”
Aku : ”Kenapa jadi sinis begitu?! Tidak bolehkah aku menuntut sesuatu yang baik untuk diriku sendiri? Apakah kamu malaikat, hah? Sadarlah, kita ini manusia!!”
Aku : ”Ya, manusia yang pernah tahu arti hidupnya, tapi kemudian lupa dan harus dituntun pulang”
Aku : ”Sudah kubilang, aku tidak lupa. Aku berani berikan jaminan!”
Aku : ”Aku tidak percaya dengan jaminan”
Aku : ”Lalu apa yang kamu percaya?”
Aku : ”Cinta, hanya cinta. Cinta yang membawa kamu datang, dan akan menuntunmu pulang”
Aku : ”Sekarang pun masih ada cinta dalam hidupku”
Aku : ”Cinta yang telah terbagi. Sebagian untuk dirinya, sebagian untuk dirimu. Dan perlahan-lahan, bagian dirinya akan semakin kecil sementara bagian dirimu semakin besar..”
………………………………………………………………………………………………………………………………
Aku : ”Apa yang kamu mau dari aku?”
Aku : ”Berkorbanlah”
Aku : ”Seberapa banyak?”
Aku : ”Sebanyak yang diperlukan”
Aku : ”Seberapa lama?”
Aku : ”Selama yang dibutuhkan”
Aku : ”Dalam bentuk apa?”
Aku : ”Dalam bentuk apapun yang diperlukan”
Aku : ”Jangan begitu…setidaknya beri aku gambaran, sedikit kepastian”
Aku : ”Obsesimu akan kepastian menghalangimu untuk berkorban. Kepastianmu adalah caramu melindungi dirimu sendiri”
Aku : ”Bukankah itu wajar?”
Aku : ”Ya untuk yang lain, tidak untukmu”
Aku : ”Kenapa tidak untukku?”
Aku : ”Karena dia yang untuknya kamu harus berkorban pun tidak mencari atau mendapatkan kepastian itu. Ingat seluruh ceritanya, bukan hanya bagianmu saja. Jalani peranmu, dan pahami peran yang lain”
Aku : ”Kamu membuatku sedih”
Aku : ”Menangislah”
Aku : ”Tapi bukankah aku tidak bersalah? Aku sudah melakukan tugasku. Aku hanya tidak melakukan yang sebenarnya dapat kulakukan”
Aku : ”Kamu meninggalkan dia yang mencintai kamu”
Aku : ”Dan sekarang aku datang lagi…”
Aku : ”Meskipun kamu tahu bahwa tidak akan mudah”
Aku : ”Tanpa paksaan?”
Aku : ”Tidak ada paksaan. Tidak ada yang menuntutmu bertanggung-jawab. Tidak juga dia yang kamu tinggalkan”
Aku : ”Tapi kesepian ini…”
Aku : ”Adalah temanmu”
Aku : ”Apa yang aku dapat dari sepi?”
Aku : ”Pengenalan dirimu, bila kamu memintanya”
Aku : ”Ya, aku memintanya”
Aku : ”Maka kamu akan menerima”
Aku : ”Kapan?”
Aku : ”Ketika kamu siap”
Aku : ”Kapan aku siap?”
Aku : ”Kapanpun kamu mengatakan kamu siap”
Aku : ”Aku bisa saja berbohong”
Aku : ”Maka kamu membohongi dirimu sendiri”
………………………………………………………………………………………………………………………………
Aku : ”Siapa kamu?”
Aku : ”Kamu”
Aku : ”Kapan kamu datang?”
Aku : ”Ketika hidup mengacaukan tujuanmu”
Aku : ”Kenapa kamu datang?”
Aku : ”Karena yang datang harus diingatkan tujuan kedatangannya”
(Nathanael Gratias Sumaktoyo)


Apret berkata
Duh ini gw banget sih T_T, akhir2 ini contemplation gw cukup suicidal T_T
Keren banget, tapi gw bacanya makin despo, hiks hiks
Btw lo lagi despo y el?
Nathanael berkata
hoho apret,
gw desperate?? maybe yes, maybe no. Sing jelas, perasaan gw emang lagi chaos waktu itu….
he3x makin desperate loe? gampang, bikin aja drama ‘diri loe’ vs ‘diri loe’. Based on my experience, it works.
Dewo berkata
“Myself vs Myself” versi gw sepakat untuk selalu have fun apapun yang terjadi.
Lo lagi kena dilema apa nih, El? Kerjaan? Ah, biasa, ntar juga kelar.
Nathanael berkata
halah wo,
gw tu orang yang paling nggak peduli sama kerjaan/kuliah/apapun yang kata orang bagus buat masa depan gw…
Gw udah tahu masa depan gw, dan ternyata ‘gitu’ banget…Nah, ‘gitu bangetnya’ yang harus gw hadapi itulah yang gw tuangin dalam tulisan ini. Make me desperate enough…to be honest..
Itu juga gw berani nulis soalnya gw yakin nggak ada yang tahu apa maksud dibaliknya he3x
adfu berkata
hehhehe, hei nathan kata-kata mu itu sangat menyentuh hati dan penuh oleh kekecewaan. kenapa kau begitu sangat putus asa? apakah kehidupanmu begitu menyedihkan?
seperti kata-katamu yang menyebut
kapanpun kamu mengatakan kamu siap?
itu cukup menyakitkan. seperti ungkapan
‘when tears leave, there is just blood split from your eyes’
lalu kenapa kau buat blog/situs ini?
apakah kau mencari orang-orang yang sama sepertimu?
atau hanya keisengan belaka?
Nathanael berkata
hello Mas/Mbak Adfu,
seperti yang sudah saya bilang, tidak ada seorang pun yang mengerti apa yang saya tulis di atas.
Hanya saya, dan dia yang untuknya saya datang yang tahu. Tidak ada yang lain selain saya dan dia.
etja berkata
sumtimes ketika lagi stress sy juga bikin dialog dg saya sendiri..
Kadang self defense mechanism menutupi diri kita dr kenyataan..
interview with ourselves kadang membantu menyibak tirai itu.
Dewo berkata
Dialog ini pernah gw temui juga di komik yang judulnya Planetes.
Setiap kali karakter utamanya jatuh tersungkur, dia langsung kaya orang stress, dialog dengan dirinya sendiri. KArena ini komik, dialog dengan dirinya sendiri itu bisa diilustrasikan. Nah, dari dialog dengan dirinya sendiri, dia ga bisa menutup2i perasaannya sendiri. Karena toh, dirinya yang satu lagi tahu kalo dia selalu menutup2i aibnya.
Dan ketika ia jatuh lagi, dia ‘yang satu lagi’ akan datang menolong.
adfu berkata
gak ngerti gue…
Hendro berkata
Btw.. boleh nanya ga maksud dari akhir monolog ny apa sih??
”Karena yang datang harus diingatkan tujuan kedatangannya”
THX ya..
Nathanael berkata
Helo Mas hendro,
terus-terang salut buat Anda…Anda berhasil menemukan titik terpenting dalam tulisan ini, sekali lagi salut…
Namun maaf Mas, pertanyaan Mas nggak bisa saya jawab, bukan karena akan mengurangi misteri tulisan ini, tapi karena memang tidak bisa, saatnya belum tiba
terimakasih Mas,
salut buat Anda yang menemukan poin terpenting tulisan ini
Cahya berkata
Kalau merujuk tulisan mas Natan sendiri: Tentang Mencari Tuhan, berarti yang mesti dicari “kenapa sih kita dikirim ke sini (dunia)?” Kalau mau tau jawabannya ya harus cari tau dan kenali dulu Siapa yang dulu mengirim Anda? betul gak maxutnya gitu mas?
Nathanael berkata
huehehe,
saya sependapat Mas, ada pertanyaan penting: “kenapa sih kita ada disini?” lalu bagian penting lain dari pertanyaan itu, mendorong kita juga untuk mengenal “siapa yang ada dibalik adanya kita disini”
tapi tulisan ini bukan tentang itu Mas
terus-terang bukan sesuatu yang bisa diceritakan, not the time yet..
udin2006 berkata
Mas Nathan, tulisannya bisa buat jd renungan, kirimin ke email gw donk tiap x nulis mas, TQ
unknown berkata
ari sia teh stress nathan goblog
kuncen berkata
bagus……..
meirisa berkata
iya ………..
terkadang kita herus sadar n tau diri jika
orang lain tak mampu mengingat kan maka
diri kita sendirilah yang harus mengingatkan apa tujuan kita hidup
pkokna keren