Singing the Forgotten Song..

To love a person is to learn the song that’s in their heart, and sing it when they’ve forgotten

My Pray for Iran

Ditulis oleh Nathanael di/pada Juni 25, 2009

Video URL: http://www.youtube.com/watch?v=MrdRwOlmIxI

nedaMy Pray for Iran

It would not happen in true democratic countries
that an election be disputed to the extent of life casualties

It would not happen in countries that respect their people
that excessive forces are used to calm people’s action

It would not happen in countries that respect freedom and human rights
that media is limited and information is censored

They can happen only in countries whose leaders playing God
whose leaders place their people second to religious doctrine

It is ironic, isn’t it?
Thousands years ago, mankind found the famous “vox populii vox Dei”
people’s voice is God’s voice

But in this modern time
some people disregard people’s voice
trying to find God’s will merely in sacred books
while they can in fact find it easily in the respect of human lives

My pray for Iran
my deepest sympathy for Iranian
for the victims of inability-to-respect-human-lives

May democracy fosters there
a true democracy free of any country’s intervention
and free of on-God’s-behalf authoritarianism

–Nathanael Gratias–

Ditulis dalam Personal | Leave a Comment »

Konvoi Motor Gede Makan Korban

Ditulis oleh Nathanael di/pada Juni 15, 2009

AMA

Komen saya:
Jika memang benar komunitas moge punya mekanisme kontrol internal seperti disampaikan Nanan Soekarna, pertanyaannya kemudian, kenapa aksi-aksi vandalisme moge terus berlangsung. Menurut saya kemungkinannya hanya dua: mekanisme internal itu sama sekali tidak ada, atau dia tidak efektif (mana bisa temen negur teman). Bila sudah demikian, satu-satunya harapan masyarakat adalah penegak hukum. Masalahnya, bisakah penegak hukum diharapkan untuk bertindak tegas terhadap kelompok-kelompok moge ini, yang notabene kumpulan orang-orang berkuasa dan, jelas, punya uang.

Saya pribadi sudah bosan dengan istilah “oknum”, dan “teguran internal”. Tekanan harus datang dari masyarakat. Bermotor besar tidak berarti berjiwa besar. Ingat saja peristiwa Sophaan Sophiaan dimana Widyawati sampai memohon anggota rombongan yang merasa menyenggol Sophaan mengaku. Kenyataannya, sepanjang yang saya ikuti, tidak ada satupun anggota rombongan motor besar itu yang cukup gentle untuk mengaku. Motor boleh sebesar gajah, tapi mental bisa sekecil kuaci. Semoga kasus Pak Edwin menjadi satu kesempatan lagi untuk menunjukkan, sama seperti kasus Prita, bahwa tekanan masyarakat bisa menaklukkan kekuasaan.

Edwin Dipukul, Istri dan Ketiga Anaknya Trauma

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/15/04180656/konvoi.moge.makan.korban

Jakarta, Kompas – Polsek Cisarua telah memeriksa delapan anggota konvoi motor gede (moge) sebagai saksi atas pelaporan pengendara mobil Darmawan Edwin Sudibyo (51) terkait pemukulan yang dilakukan oleh pengendara moge di kawasan Puncak terhadap dirinya.

Kepala Polsek Cisarua Ajun Komisaris Hepi Hanafi, yang dihubungi, Minggu (14/6), mengatakan, sejauh ini belum ada pengakuan dari pihak rombongan moge.

“Meski begitu, penyidikan polisi tidak hanya akan berdasarkan pengakuan saja. Kami masih terus mendalami kasus ini,” katanya.

Sementara itu, Ketua Harian Harley Davidson Club Indonesia Inspektur Jenderal Nanan Soekarna menegaskan, pihaknya mendukung penuh proses hukum tersebut.

“Harus ditindak tegas pidananya, organisasi juga akan mencabut keanggotaan anggota yang arogan seperti itu. Mereka akan dikucilkan dari komunitas,” kata Nanan.

Kronologi

Peristiwa itu terjadi Minggu, 24 Mei lalu di kawasan Puncak sekitar pukul 16.00. Edwin mengendarai mobil Nissan X-Trail dari arah Cisarua menuju Jakarta. Bersama Edwin ikut pula istrinya, Dian Fara (39), yang tengah hamil lima bulan, ketiga anaknya, yaitu Akbar (14), Athaa (7), dan Raditya (4), serta ayah mertua, Syahrul Malik (70).

Menurut Edwin, ketika itu kondisi jalan tengah macet. Lalu, muncul konvoi moge yang melaju di jalur kanan menuju Jakarta. Konvoi yang dibimbing oleh vorrijder itu rupanya terputus karena padatnya lalu lintas. Rombongan moge yang tertinggal rupanya menganggap mobil yang dikendarai Edwin menghalangi laju konvoi.

“Mobil saya sudah tidak bisa minggir ke kiri karena sangat padat. Mereka lalu menggebrak-gebrak dan mengepung mobil saya. Saya buka jendela mobil dan tanya kenapa mobil saya dipukul. Tetapi, mereka rupanya marah, memaki-maki dan meludahi. Tiba-tiba ada yang pukul muka saya dan beberapa yang lain mencoba memukul juga tetapi saya menghindar,” tutur Edwin, seusai melengkapi pemeriksaan polisi di Polsek Cisarua, Bogor.

Selain dipukul, mobil Edwin yang digebrak dan ditendangi juga mengalami rusak, dua kaca spion terlepas, washer lampu rusak, dan lecet pada badan mobil.

Menurut Edwin, seusai kejadian dirinya langsung melapor ke Polsek Cisarua dan menjalani visum di klinik terdekat. “Istri dan anak-anak menangis histeris ketakutan melihat kami dikepung dan bapaknya dipukul seperti itu oleh mereka. Sampai sekarang kalau mendengar kata Puncak, mereka trauma. Saya melapor ke polisi berharap ada efek jera dan hal ini tidak terjadi lagi kepada siapa pun,” kata Edwin. (sf)

Ditulis dalam Comments on News | Leave a Comment »

Prita yang lain

Ditulis oleh Nathanael di/pada Juni 5, 2009

Tulisan ini hanya untuk menginformasikan, Prita ternyata bukan satu-satunya…ada yang lain lagi (Khoe Seng Seng). Terusterang pertanyaan saya, mengingat pembelaan gencar terhadap Prita, apakah KSS ini juga akan menerima pembelaan serupa? Karena meskipun kasusnya sangat mirip, namun dari segi “daya tarik ke masyarakat” Prita dan KSS cukup berbeda.

Saya berharap tekanan masyarakat atas kasus Prita membuat semua pihak lebih menghargai kebebasan berpendapat. Tidak kalah berharapnya, semoga pembelaan masyarakat atas Prita bukan disebabkan oleh “rasa kasihan” atau “solidaritas” semata, melainkan benar-benar disemangati kesadaran akan pentingnya menjamin hak berpendapat. Dengan demikian, kita bisa yakin Prita, KSS, dan Prita-KSS yang lain memperoleh dukungan yang sama kuat dari masyarakat, lepas dari apakah mereka mengundang rasa iba atau tidak.

http://nasional.vivanews.com/news/read/63392-khoe_seng_seng_hadapi_tuntutan_

VIVAnews – Hari ini, Khoe Seng Seng, penulis surat pembaca di sebuah media dan lalu digugat pidana, akan menghadapi sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Timur. Seng diadili karena menulis surat pembaca di sejumlah media massa tentang status bangunan di ITC Mangga Dua.

“Sidangnya nanti pukul satu siang,” kata Direktur Lembaga Bantuan Hukum Pers, Hendrayana, yang merupakan kuasa hukum Khoe Seng Seng, saat dihubungi VIVAnews, Kamis 4 Juni 2009.

Khoe dikenai Pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik dan Pasal 311 tentang pencemaran dengan tulisan terkait surat pembacanya pada 26 September 2006 di harian Kompas dan pada 21 November 2006 di Suara Pembaruan. Ia diancam 16 bulan hingga empat tahun kurungan.

Menurut Leo Batubara, anggota Dewan Pers yang dipanggil selaku saksi ahli, surat pembaca merupakan karya jurnalistik karena pemuatannya melalui mekanisme kerja redaksi. Ada seleksi dari redaktur hingga pemimpin redaksi sebelum surat pembaca disiarkan. “Maka harusnya memakai UU Pers (UU Nomor 40 Tahun 1999),” kata Leo.

“Karya jurnalistik, hanya bisa dihukum dengan denda yang jumlahnya proporsional. Pasalnya, jika denda dengan jumlah besar dan mematikan, maka akan mengancam media,” katanya melanjutkan.

Khoe dilaporkan PT Duta Pertiwi, pengembang ITC Mangga Dua, telah mencemarkan nama baik. Sementara Khoe merasa Duta Pertiwi telah wanprestasi dalam perjanjian jual beli mereka.

Kasus ini agak mirip dengan kasus Prita Mulyasari yang dituduh mencemarkan nama baik karena menyebar e-mail di milis-milis. Prita bahkan ditahan dengan menggunakan pasal yang sama dikenakan pada Khoe.
• VIVAnews

Ditulis dalam Comments on News | 3 Komentar »

Tanda Kebesaran Allah

Ditulis oleh Nathanael di/pada Februari 6, 2009

Ada sebuah cerita. Suatu ketika, Pak Tua merasa bahwa hari itu adalah hari terakhir hidupnya. Sebagai seorang yang senantiasa belajar tentang Allah, Pak Tua ingin hari terakhir itu memberinya lagi satu pelajaran tentang Allah. Ia mengundang kerabat-kerabat dan tetangganya, memberinya satu permintaan, ”Tunjukkan pada saya tanda kebesaran Allah yang paling mengagumkan.”

Kerabatnya tidak asing lagi dengan permintaan-permintaan aneh Pak Tua. Bergegas mereka mencari orang-orang yang kiranya dapat memenuhi permintaan itu. Di penghujung hari, berkumpulah orang-orang bijak tingkat kampung lengkap dengan aksesoris dan dandanan kebesaran masing-masing. Mereka sudah menyiapkan jawaban yang pasti akan mencengangkan Pak Tua.

Orang pertama, seorang ilmuwan biologi. Di hadapan Pak Tua, ia menjelaskan berbagai macam hal mengagumkan tentang tubuh manusia. Bagaimana metabolisme dapat berjalan, bagaimana organ saling mendukung satu sama lain, dan berbagai hal lain yang (menurut ilmuwan tersebut) tidak mungkin dapat diciptakan oleh manusia. Seperti sudah diduga, Pak Tua tercengang. Ia tidak pernah sekolah, hanya belajar dari alam dan orang-orang tua sebelumnya, hal-hal demikian tidak pernah ia tahu.

Selanjutnya, seorang ahli astronomi. Ia mengajak Pak Tua keluar ruangan, dan menunjukan kepadanya bintang-bintang di langit. Karena desa Pak Tua belum masuk listrik, gugusan-gugusan bintang itu jelas sekali. Si pakar astronomi menjelaskan bagaimana bumi bahkan tidak lebih besar dari debu di lautan semesta. Jutaan tata surya di dalam Bima Sakti, dan miliaran Bima Sakti di semesta. Semua penjelasan itu berujung pada, ”Bayangkan Pak Tua, betapa besar Allah yang menciptakan semua itu.” Pak Tua sangat terkesima, selama ini ia tidak pernah tahu ada bintang di balik bintang.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Tentang Tuhan dan Spiritualitas | 4 Komentar »

Hope

Ditulis oleh Nathanael di/pada Januari 22, 2009

What can one do in thy loneliness
Can thee shout? Who will hear?
Can thee cry? Who will weep the tears?
Can thee scream? For what reason?

Can screaming remove the silent
For real silent might never can be removed
Because it’s in the heart
Not in the eyes that missing sights
Not in the nose that missing fragrance
Not in the lip that missing a kiss
Not even in the skin that praying for a touch

For heart might feel the silent
but knows not of why and how it comes

It might come from the absence of love
It also might come from the love itself
From the deep desire of knowing what love is
From the longed passion to feel the real love
To give the real love, and to be given

What can one do in thy loneliness
In the long endless night
In the unpresence of everything but the deep intimidating feeling of being lonely

Is there still any hope
Shall thee wait for the hand that will comfort?
Words that say everything’s gonna be okay?
A person, that might have never been born?
What is a hope, so it makes us never really give up
(Nathanael Gratias Sumaktoyo)

Ditulis dalam Personal | 3 Komentar »

Pornografi NO, Pedofilia YES

Ditulis oleh Nathanael di/pada Nopember 1, 2008

Hayo-hayo yang mendukung UU Porno demi untuk “menyelamatkan generasi muda”, dimana kalian ketika masa depan satu orang generasi muda ini terenggut???

Ditulis dalam Tentang Negara dan Dunia | Leave a Comment »

DEKAT DI MATA, BUKAN (BELUM) DI HATI

Ditulis oleh Nathanael di/pada September 24, 2008

Penulis: Nathanael Gratias
Juara II Lomba Esai Nasional “Hubungan Indonesia-Australia” Kategori Mahasiswa. Kerjasama Center for Indonesia Reform dan Kedutaan Besar Australia.

“Australia cuma sepelemparan batu jaraknya, tapi membicarakan Australia seperti membicarakan negeri yang ada di Eropa sana. Jauh. Tidak familiar. Tidak Asia banget. Singkat kata, beda”

Kalimat di atas bukan diambil dari buku atau kutipan sosok terkenal, semata merupakan impresi pertama saya bila mendengar kata ‘Australia.’ Logika formal saya sadar benar Australia terletak hanya sedikit di bawah Nusa Tenggara, sedemikian dekat sehingga dalam masyarakat berkembang joke penduduk kedua negara dapat saling melihat jemuran pakaian masing-masing. Sayangnya, tidak jarang pula ketika mendengar kata yang sama terlintas dalam benak justru sebuah kultur yang asing, tidak familiar.

Membicarakan persahabatan Indonesia-Australia berarti membicarakan persahabatan berbeda kultur. Membicarakan persahabatan berbeda kultur berarti membicarakan persahabatan yang harus melewati hambatan stigma dan stereotipe. Pada akhirnya, sama seperti semua hal yang terkait dengan prasangka, saling mengenal adalah penyelesaian terbaik.

Untuk saling mengenal, individu atau kelompok perlu terbuka dan memahami hal-hal yang menghambat perkenalan tersebut. Bila suatu hal tidak berkembang hingga tingkat maksimalnya, hanya ada dua kemungkinan: keterbatasan waktu atau adanya hambatan. Waktu sepertinya bukan masalah dalam hubungan Indonesia-Australia. Hal ini terlihat jelas bila kita menelusuri kembali sejarah kedekatan yang berakar bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia. Mengesampingkan keterbatasan waktu menghadapkan kita pada kemungkinan kedua, adanya hambatan yang mengganjal hubungan kedua negara.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Tentang Negara dan Dunia | 2 Komentar »

Nilai

Ditulis oleh Nathanael di/pada Juli 11, 2008

Hari ini saya lihat nilai di portal Binus. Sebenarnya sudah keluar kemarin sore, cuma kemarin malas online, jadi saya putuskan untuk lihat besok (hari ini) aja. Kebetulan, hari ini emang rencana ke kampus buat ngembaliin buku perpustakaan, jadi bisa sekalian ber-wifi ria dan download-download :)

Balik ke nilai. Singkat kata, saya mengetikkan http://binusmaya.binus.ac.id dan memasukkan username+password. Nah, tampilan muncul. Lumayan deg-degan. Kemudian klik Nilai -> Nilai Ujian. Saya lihat semua nilai yang ada…

Deg. Pandangan saya terhenti. Ada satu nilai yang tidak saya harapkan, 83. Duh, kenapa ada nilai akhir segini? Hiks, kecewa banget. 83 itu berarti B, dan itu satu-satunya nilai B di semester ini….

Nggak karuan rasanya, terus-terang semester ini saya menargetkan A mulus…tapi kok ada cacatnya gini. Nilai A di Binus 85, sementara yang saya dapet 83, makin bikin nyesek…

Kenapa gini?

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Personal | 2 Komentar »

Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas

Ditulis oleh Nathanael di/pada Juli 3, 2008

Oleh: Saidiman (http://saidiman.wordpress.com/)

Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam (FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah. Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita yang mulai cenderung salah arah tersebut.

Penyerangan, Bukan Bentrok

Beberapa media tidak segan-segan menyebut tragedi ini “bentrokan” antara massa FPI dan AKKBB. Istilah bentrokan sungguh menyesatkan karena itu mengandaikan AKKBB juga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.

Faktanya, FPI menyerang massa AKKBB. Saat itu, acara belum dimulai. Sebagian massa AKKBB berada di pelataran Monas menunggu aksi longmarch yang akan dimulai dari kawasan belakang stasiun Gambir. Sambil menunggu massa AKKBB yang lain, massa yang ada di pelataran Monas tersebut duduk-duduk. Ketika massa FPI mendekat, massa AKKBB diperintahkan untuk duduk. Saya sendiri yang menyampaikan kepada massa untuk tidak terprovokasi, karena kami melihat massa FPI semakin dekat dan berteriak-teriak sambil mengancung-acungkan pentungan. Saya lalu meminta massa untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Belum sempat lagu kebangsaan itu dinyanyikan, massa FPI sudah menyerbu. Mereka memukul dengan pentungan bambu, meninju, menendang, menginjak-injak, sambil melontarkan sumpah serapah. Saya masih sempat menyeru massa AKKBB untuk tetap duduk, sebab kesepakatan kita, aksi ini adalah aksi damai. Kalau ada serangan fisik, maka kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Massa AKKBB memang patuh kepada kesepakatan, tidak ada satupun massa yang melakukan perlawanan. Tetapi karena serangan begitu massif, akhirnya massa AKKBB bubar menyelematkan diri. Ibu-ibu menangis, anak-anak menjerit ketakutan, puluhan orang menderita luka.

Tidak Ada Provokasi

Beberapa hari setelah tragedi, muncul pemberitaan bahwa massa AKKBB melakukan provokasi terlebih dahulu melalui orasi yang menyatakan bahwa massa penyerang itu adalah “laskar setan atau iblis.” Itu adalah dusta besar. Faktanya, acara belum dimulai. Orasi belum dilaksanakan. Yang ada hanyalah seruan kepada peserta AKKBB untuk duduk, untuk tidak terprovokasi, dan untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Dan tidak pernah ada bukti bahwa orasi provokasi benar-benar dilakukan oleh AKKBB.

Patut dicatat beberapa pernyataan dalam orasi-orasi pemimpin serangan FPI pada saat serangan telah dilakukan. Alfian Tanjung mengatakan di depan massa FPI: “Saya bangga dengan Anda semua yang telah melibas mereka dengan cepat.” Indikasi bahwa aksi ini dilakukan secara terencana dan dengan restu Riziq Shihab bisa dilihat dari pernyataan Alfian Tanjung selanjutnya: “Pada pertemuan terakhir kita dengan Habib Riziq, dia memegang tangan saya, “Ustadz Alfian, hari minggu siang kita perang.”  Pada kesempatan itu, Alfian juga mengatakan bahwa mereka baru saja menang satu kosong, dan mereka akan terus menang sampai 1000 kosong.

Menjelang bubar, Munarman menyampaikan kepada massanya bahwa aksi mereka hari itu belum apa-apa: “Kita belum memenangkan pertempuran… Berikutnya kita akan datangi tempat-tempat mereka. Kita akan datangi yang namanya Goenawan Mohamad. Kita akan datangi yang namanya Asmara Nababan.” Munarman juga menyampaikan: “Sudah ada penyampaian baik dari polisi maupun intelijen kita yang menyatakan konsentrasi massa pembela-pembela Ahmadiyah itu sudah bubar. Tidak ada kegiatan di HI dan di depan RRI.”

Bukti-bukti orasi ini sangat penting untuk melihat FPI memang melakukan serangan secara terencana dan bukan insidental.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Comments on News | Leave a Comment »

Tuw kan FPI Bohong: Fakta Pria Berpistol

Ditulis oleh Nathanael di/pada Juli 1, 2008

Saat ribut-ribut kasus Monas, FPI mengajukan pembelaan diri bahwa aksi kekerasan mereka disebabkan oleh provokasi AKKBB. Rizhieq Shihab dengan bangga menunjukkan foto pria berspistol, yang katanya memprovokasi massa FPI. Sekarang kenyataan terbongkar, dan jelas sekali dalam hal ini bos FPI itu telah berbohong.

Sekarang yang ingin saya tahu, setelah kebohongannya terbongkar, Pak Rizhieq akan komentar apa?

Berita Kompas (25/06/2008)

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Abu Bakar Nataprawira mengatakan, Senin (23/6) sekitar pukul 16.00 polisi telah menangkap laki-laki berpistol yang dituduh pihak Front Pembela Islam atau FPI melecut kerusuhan di depan Monas, 1 Juni lalu.

Laki-laki itu ternyata adalah anggota Polres Tangerang dari unit lalu lintas bernama Brigadir Kepala (Bripka) Iskandar Saleh. Dari rekaman DVD yang ditemukan di rumah Munarman (FPI) terungkap, Iskandar berusaha menyelamatkan seorang anak dan dua perempuan saat sejumlah orang beratribut FPI berusaha menyerang massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan dan Beragama (AKKBB).

Dari kronologi di DVD itu terungkap, massa yang dipimpin Munarman telah lebih dulu menyerang massa AKKBB sebelum Iskandar mencoba mengeluarkan senjata api, yang lalu diselipkan di pinggang.

“Bripka Iskandar ternyata dating ke acara itu menemani istri dan ibu mertua dan anaknya. Mereka anggota Ahmadiyah dan kedatangan itu atas inisiatif sendiri,”kata Abubakar.

Abubakar menambahkan, aparat Polda Metro saat ini tengah memeriksa Iskandar karena dari data registrasi di Polres Tangerang, Iskandar tidak memiliki senjata api dinas. “Kami selidiki apakah pistol dia itu mainan atau betulan dan milik pribadi,”ujar Abubakar.

Dalam insiden Monas tersebut, kata Abubakar, polisi telah menyerahkan sempat berkas kepada Kejaksaan Tinggi, Senin (23/6) sekitar pukul 14.00. Keempat berkas itu adalah berkas Habib Rizieq Syihab, berkas Munarman, berkas Machsuni, dan berkas tujuh anggota FPI lainnya yaitu Subhan, Agus Bambang, Sudiran bin Sobari, Raplin, Fahruzi, Taufik Hidayat, dan Samsuddin.

“Mereka dikenai pasal 170 KUHP, yaitu memberi kesempatan dengan pengaruh untuk melakukan tindak kekerasan,” kata Abubakar.

Rizieq juga dikenai Pasal 156 KUHP, yaitu menunjukkan ketidaksenangan dan penghinaan kepada kelompok tertentu. Menurut Abubakar, pelimpahan berkas itu merupakan pelimpahan tahap pertama.

Ditulis dalam Comments on News | 1 Komentar »