“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis,
ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah...”
(Pramoedya Ananta Toer)
Quotation
Wherever bibliolatry has prevailed, bigotry and cruelty have accompanied it.
(T.H. Huxley)
Quotation
The weak can never forgive. Forgiveness is the attribute of the strong. (Mahatma Gandhi)
Quotation
They do not love that do not show their love. The course of true love never did run smooth. Love is a familiar. Love is a devil. There is no evil angel but Love. (William Shakespeare)
Quotation
If you have love, you don't need to have anything else. If you don't have it, it doesn't matter much what else you have. (Sir James M. Barrie)
Quotation
You don't marry someone you can live with - you marry the person who you cannot live without. (Unknown)
Quotation
Love never dies a natural death. It dies because we don't know how to replenish its source. It dies of blindness and errors and betrayals. It dies of illness and wounds; it dies of weariness, of withering, of tarnishing. (Anais Nin)
Video URL: http://www.youtube.com/watch?v=MrdRwOlmIxI
My Pray for Iran
It would not happen in true democratic countries
that an election be disputed to the extent of life casualties
It would not happen in countries that respect their people
that excessive forces are used to calm people’s action
It would not happen in countries that respect freedom and human rights
that media is limited and information is censored
They can happen only in countries whose leaders playing God
whose leaders place their people second to religious doctrine
It is ironic, isn’t it?
Thousands years ago, mankind found the famous “vox populii vox Dei”
people’s voice is God’s voice
But in this modern time
some people disregard people’s voice
trying to find God’s will merely in sacred books
while they can in fact find it easily in the respect of human lives
My pray for Iran
my deepest sympathy for Iranian
for the victims of inability-to-respect-human-lives
May democracy fosters there
a true democracy free of any country’s intervention
and free of on-God’s-behalf authoritarianism
Ada sebuah cerita. Suatu ketika, Pak Tua merasa bahwa hari itu adalah hari terakhir hidupnya. Sebagai seorang yang senantiasa belajar tentang Allah, Pak Tua ingin hari terakhir itu memberinya lagi satu pelajaran tentang Allah. Ia mengundang kerabat-kerabat dan tetangganya, memberinya satu permintaan, ”Tunjukkan pada saya tanda kebesaran Allah yang paling mengagumkan.”
Kerabatnya tidak asing lagi dengan permintaan-permintaan aneh Pak Tua. Bergegas mereka mencari orang-orang yang kiranya dapat memenuhi permintaan itu. Di penghujung hari, berkumpulah orang-orang bijak tingkat kampung lengkap dengan aksesoris dan dandanan kebesaran masing-masing. Mereka sudah menyiapkan jawaban yang pasti akan mencengangkan Pak Tua.
Orang pertama, seorang ilmuwan biologi. Di hadapan Pak Tua, ia menjelaskan berbagai macam hal mengagumkan tentang tubuh manusia. Bagaimana metabolisme dapat berjalan, bagaimana organ saling mendukung satu sama lain, dan berbagai hal lain yang (menurut ilmuwan tersebut) tidak mungkin dapat diciptakan oleh manusia. Seperti sudah diduga, Pak Tua tercengang. Ia tidak pernah sekolah, hanya belajar dari alam dan orang-orang tua sebelumnya, hal-hal demikian tidak pernah ia tahu.
Selanjutnya, seorang ahli astronomi. Ia mengajak Pak Tua keluar ruangan, dan menunjukan kepadanya bintang-bintang di langit. Karena desa Pak Tua belum masuk listrik, gugusan-gugusan bintang itu jelas sekali. Si pakar astronomi menjelaskan bagaimana bumi bahkan tidak lebih besar dari debu di lautan semesta. Jutaan tata surya di dalam Bima Sakti, dan miliaran Bima Sakti di semesta. Semua penjelasan itu berujung pada, ”Bayangkan Pak Tua, betapa besar Allah yang menciptakan semua itu.” Pak Tua sangat terkesima, selama ini ia tidak pernah tahu ada bintang di balik bintang.
What can one do in thy loneliness
Can thee shout? Who will hear?
Can thee cry? Who will weep the tears?
Can thee scream? For what reason?
Can screaming remove the silent
For real silent might never can be removed
Because it’s in the heart
Not in the eyes that missing sights
Not in the nose that missing fragrance
Not in the lip that missing a kiss
Not even in the skin that praying for a touch
For heart might feel the silent
but knows not of why and how it comes
It might come from the absence of love
It also might come from the love itself
From the deep desire of knowing what love is
From the longed passion to feel the real love
To give the real love, and to be given
What can one do in thy loneliness
In the long endless night
In the unpresence of everything but the deep intimidating feeling of being lonely
Is there still any hope
Shall thee wait for the hand that will comfort?
Words that say everything’s gonna be okay?
A person, that might have never been born?
What is a hope, so it makes us never really give up (Nathanael Gratias Sumaktoyo)
Penulis: Nathanael Gratias
Juara II Lomba Esai Nasional “Hubungan Indonesia-Australia” Kategori Mahasiswa. Kerjasama Center for Indonesia Reform dan Kedutaan Besar Australia.
“Australia cuma sepelemparan batu jaraknya, tapi membicarakan Australia seperti membicarakan negeri yang ada di Eropa sana. Jauh. Tidak familiar. Tidak Asia banget. Singkat kata, beda”
Kalimat di atas bukan diambil dari buku atau kutipan sosok terkenal, semata merupakan impresi pertama saya bila mendengar kata ‘Australia.’ Logika formal saya sadar benar Australia terletak hanya sedikit di bawah Nusa Tenggara, sedemikian dekat sehingga dalam masyarakat berkembang joke penduduk kedua negara dapat saling melihat jemuran pakaian masing-masing. Sayangnya, tidak jarang pula ketika mendengar kata yang sama terlintas dalam benak justru sebuah kultur yang asing, tidak familiar.
Membicarakan persahabatan Indonesia-Australia berarti membicarakan persahabatan berbeda kultur. Membicarakan persahabatan berbeda kultur berarti membicarakan persahabatan yang harus melewati hambatan stigma dan stereotipe. Pada akhirnya, sama seperti semua hal yang terkait dengan prasangka, saling mengenal adalah penyelesaian terbaik.
Untuk saling mengenal, individu atau kelompok perlu terbuka dan memahami hal-hal yang menghambat perkenalan tersebut. Bila suatu hal tidak berkembang hingga tingkat maksimalnya, hanya ada dua kemungkinan: keterbatasan waktu atau adanya hambatan. Waktu sepertinya bukan masalah dalam hubungan Indonesia-Australia. Hal ini terlihat jelas bila kita menelusuri kembali sejarah kedekatan yang berakar bahkan sebelum kemerdekaan Indonesia. Mengesampingkan keterbatasan waktu menghadapkan kita pada kemungkinan kedua, adanya hambatan yang mengganjal hubungan kedua negara.
Hari ini saya lihat nilai di portal Binus. Sebenarnya sudah keluar kemarin sore, cuma kemarin malas online, jadi saya putuskan untuk lihat besok (hari ini) aja. Kebetulan, hari ini emang rencana ke kampus buat ngembaliin buku perpustakaan, jadi bisa sekalian ber-wifi ria dan download-download
Balik ke nilai. Singkat kata, saya mengetikkan http://binusmaya.binus.ac.id dan memasukkan username+password. Nah, tampilan muncul. Lumayan deg-degan. Kemudian klik Nilai -> Nilai Ujian. Saya lihat semua nilai yang ada…
Deg. Pandangan saya terhenti. Ada satu nilai yang tidak saya harapkan, 83. Duh, kenapa ada nilai akhir segini? Hiks, kecewa banget. 83 itu berarti B, dan itu satu-satunya nilai B di semester ini….
Nggak karuan rasanya, terus-terang semester ini saya menargetkan A mulus…tapi kok ada cacatnya gini. Nilai A di Binus 85, sementara yang saya dapet 83, makin bikin nyesek…
Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam (FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah. Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita yang mulai cenderung salah arah tersebut.
Penyerangan, Bukan Bentrok
Beberapa media tidak segan-segan menyebut tragedi ini “bentrokan” antara massa FPI dan AKKBB. Istilah bentrokan sungguh menyesatkan karena itu mengandaikan AKKBB juga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.
Faktanya, FPI menyerang massa AKKBB. Saat itu, acara belum dimulai. Sebagian massa AKKBB berada di pelataran Monas menunggu aksi longmarch yang akan dimulai dari kawasan belakang stasiun Gambir. Sambil menunggu massa AKKBB yang lain, massa yang ada di pelataran Monas tersebut duduk-duduk. Ketika massa FPI mendekat, massa AKKBB diperintahkan untuk duduk. Saya sendiri yang menyampaikan kepada massa untuk tidak terprovokasi, karena kami melihat massa FPI semakin dekat dan berteriak-teriak sambil mengancung-acungkan pentungan. Saya lalu meminta massa untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Belum sempat lagu kebangsaan itu dinyanyikan, massa FPI sudah menyerbu. Mereka memukul dengan pentungan bambu, meninju, menendang, menginjak-injak, sambil melontarkan sumpah serapah. Saya masih sempat menyeru massa AKKBB untuk tetap duduk, sebab kesepakatan kita, aksi ini adalah aksi damai. Kalau ada serangan fisik, maka kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Massa AKKBB memang patuh kepada kesepakatan, tidak ada satupun massa yang melakukan perlawanan. Tetapi karena serangan begitu massif, akhirnya massa AKKBB bubar menyelematkan diri. Ibu-ibu menangis, anak-anak menjerit ketakutan, puluhan orang menderita luka.
Tidak Ada Provokasi
Beberapa hari setelah tragedi, muncul pemberitaan bahwa massa AKKBB melakukan provokasi terlebih dahulu melalui orasi yang menyatakan bahwa massa penyerang itu adalah “laskar setan atau iblis.” Itu adalah dusta besar. Faktanya, acara belum dimulai. Orasi belum dilaksanakan. Yang ada hanyalah seruan kepada peserta AKKBB untuk duduk, untuk tidak terprovokasi, dan untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Dan tidak pernah ada bukti bahwa orasi provokasi benar-benar dilakukan oleh AKKBB.
Patut dicatat beberapa pernyataan dalam orasi-orasi pemimpin serangan FPI pada saat serangan telah dilakukan. Alfian Tanjung mengatakan di depan massa FPI: “Saya bangga dengan Anda semua yang telah melibas mereka dengan cepat.” Indikasi bahwa aksi ini dilakukan secara terencana dan dengan restu Riziq Shihab bisa dilihat dari pernyataan Alfian Tanjung selanjutnya: “Pada pertemuan terakhir kita dengan Habib Riziq, dia memegang tangan saya, “Ustadz Alfian, hari minggu siang kita perang.” Pada kesempatan itu, Alfian juga mengatakan bahwa mereka baru saja menang satu kosong, dan mereka akan terus menang sampai 1000 kosong.
Menjelang bubar, Munarman menyampaikan kepada massanya bahwa aksi mereka hari itu belum apa-apa: “Kita belum memenangkan pertempuran… Berikutnya kita akan datangi tempat-tempat mereka. Kita akan datangi yang namanya Goenawan Mohamad. Kita akan datangi yang namanya Asmara Nababan.” Munarman juga menyampaikan: “Sudah ada penyampaian baik dari polisi maupun intelijen kita yang menyatakan konsentrasi massa pembela-pembela Ahmadiyah itu sudah bubar. Tidak ada kegiatan di HI dan di depan RRI.”
Bukti-bukti orasi ini sangat penting untuk melihat FPI memang melakukan serangan secara terencana dan bukan insidental.
Saat ribut-ribut kasus Monas, FPI mengajukan pembelaan diri bahwa aksi kekerasan mereka disebabkan oleh provokasi AKKBB. Rizhieq Shihab dengan bangga menunjukkan foto pria berspistol, yang katanya memprovokasi massa FPI. Sekarang kenyataan terbongkar, dan jelas sekali dalam hal ini bos FPI itu telah berbohong.
Sekarang yang ingin saya tahu, setelah kebohongannya terbongkar, Pak Rizhieq akan komentar apa?
Berita Kompas (25/06/2008)
Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Abu Bakar Nataprawira mengatakan, Senin (23/6) sekitar pukul 16.00 polisi telah menangkap laki-laki berpistol yang dituduh pihak Front Pembela Islam atau FPI melecut kerusuhan di depan Monas, 1 Juni lalu.
Laki-laki itu ternyata adalah anggota Polres Tangerang dari unit lalu lintas bernama Brigadir Kepala (Bripka) Iskandar Saleh. Dari rekaman DVD yang ditemukan di rumah Munarman (FPI) terungkap, Iskandar berusaha menyelamatkan seorang anak dan dua perempuan saat sejumlah orang beratribut FPI berusaha menyerang massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan dan Beragama (AKKBB).
Dari kronologi di DVD itu terungkap, massa yang dipimpin Munarman telah lebih dulu menyerang massa AKKBB sebelum Iskandar mencoba mengeluarkan senjata api, yang lalu diselipkan di pinggang.
“Bripka Iskandar ternyata dating ke acara itu menemani istri dan ibu mertua dan anaknya. Mereka anggota Ahmadiyah dan kedatangan itu atas inisiatif sendiri,”kata Abubakar.
Abubakar menambahkan, aparat Polda Metro saat ini tengah memeriksa Iskandar karena dari data registrasi di Polres Tangerang, Iskandar tidak memiliki senjata api dinas. “Kami selidiki apakah pistol dia itu mainan atau betulan dan milik pribadi,”ujar Abubakar.
Dalam insiden Monas tersebut, kata Abubakar, polisi telah menyerahkan sempat berkas kepada Kejaksaan Tinggi, Senin (23/6) sekitar pukul 14.00. Keempat berkas itu adalah berkas Habib Rizieq Syihab, berkas Munarman, berkas Machsuni, dan berkas tujuh anggota FPI lainnya yaituSubhan, Agus Bambang, Sudiran bin Sobari, Raplin, Fahruzi, Taufik Hidayat, dan Samsuddin.
“Mereka dikenai pasal 170 KUHP, yaitu memberi kesempatan dengan pengaruh untuk melakukan tindak kekerasan,” kata Abubakar.
Rizieq juga dikenai Pasal 156 KUHP, yaitu menunjukkan ketidaksenangan dan penghinaan kepada kelompok tertentu. Menurut Abubakar, pelimpahan berkas itu merupakan pelimpahan tahap pertama.
13.00 Tim Jurnal Perempuan standby dan tiba di gerbang Gambir dekat pintu masuk Monas
13.20 Bergabung bersama tim AKKKB, berjalan perlahan menuju ke lokasi tengah Monas, tepat di depan Monas, ternyata sebagian anggota tim AKKBB sedang check-sound dan mengatur barisan untuk memulai acara
13.30 Ketika Tim JP sudah bergabung, dari arah lain, gerombolan orang-orang berjubah putih, memakai slayer/syal warna putih hijau berlambang pedang, memegang bambu runcing dan besi hitam panjang, mendatangi ke arah tim AKKBB yang sedang bersiap-siap , mengatur barisan dan hendak berdoa dan
tidak bersenjata apapun juga. Di depan, terlihat beberapa ibu dari Ahmadiyah dan anak remaja bersama mereka.
13.40 Dalam sekejab, mereka menyerang barisan kami, berteriak „Allahuakbar”, „tangkap sekutu Gus Dur” dan lainnya, maju merangsek ke barisan yang sudah dibatasi oleh tali, memukulkan bambu dan besi mereka membabi buta ke arah kami, termasuk kepada tim JP yang ada di dalam barisan. Seluruh massa AKKKB berlarian menyelamatkan diri, kocar kacir panik dan berusaha menyelamatkan diri. Tim Jurnal Perempuan terdiri dari Mariana Amiruddin, Nur Azizah, Olin Monteiro dan Mohammad Guntur Romli terpencar, tetapi setelah itu bertemu kembali. Kami berusaha saling menjaga dan bahkan sempat berkomunikasi dengan Ezky, Jajang C. Noer dan Dyah Ayu Pasha yang sangat menyayangkan penyerangan itu. Guntur tidak terlihat oleh karena itu, tim JP langsung mencari dan berkomunikasi melihat posisinya. Sementara massa membakar poster, merusak mobil sound-system, meneriaki kemarahan membabi buta kepada orang yang lewat, bahkan berteriak mengancam pada perempuan. Tim JP sempat melihat mereka juga memukuli seorang bapak yang lewat tapi bukan tim Aksi kita. Nur Azizah berhasil merekam foto-foto sebagian dari kejadian, walaupun sempat diancam oleh anggota FPI dan sempat ditarik-tarik tas ransel
yang sedang dipegangnya.
13.50 Guntur yang terpencar, ternyata berusaha menyelamatkan seorang bapak yang memegang anak kecil dan berusaha kabur dari keroyokan massa. Malangnya, Guntur juga ternyata ikut dikeroyok dan dipukuli menggunakan bambu. Guntur sempat dibawa ambulans dengan 4 korban lainnya yang terluka cukup parah, tetapi turun untuk memantau situasi dan melihat teman lainnya. Darah mengucur dari dahi yang robek, hidung mengeluarkan darah terus dan mata bengkak kehitaman.
14.00 Tim JP berhasil menemukan Guntur dekat kios wartel dan mengurusi pendarahan yang masih terjadi. Di Kios, Guntur juga sempat dibantu para Bapak penjual/pedagang kaki lima untuk menghentikan pendarahan. Kami segera mencari transportasi untuk mengurus luka-luka Guntur.
14.20 Dengan taksi Tim JP mengantar Guntur menuju RSPAD dekat Atrium Senen. Kami segera masuk ke UGD untuk mendapatkan perawatan.
17.00 Setelah administrasi, rontgen dan urusan dokter yang cukup lama, Guntur masuk kamar operasi untuk melakukan operasi reposisi tulang hidung yang geser, pelipis yang retak dan robek 3 cm disekitar atas mata dan dahi kanan. Kondisinya stabil dan cukup membaik. Kabar dari dokter perlu perawatan dua hari di Rumah Sakit. Selasa diharapkan boleh pulang.
19.0 WIB Kami juga mendengar kabar dua Bapak dari Ahmadiyah juga menjadi korban penganiayaan dan dirawat di RSPAD yang sama dengan Guntur.
Kronologis oleh: Nur Azizah dan Olin Monteiro (tim Jurnal Perempuan)
Pelurusan Fakta Tragedi Berdarah Monas
Ditulis oleh Nathanael di/pada Juli 3, 2008
Oleh: Saidiman (http://saidiman.wordpress.com/)
Tragedi Monas, 1 Juni 2008, berupa penyerangan kelompok Front Pembela Islam (FPI) kepada massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan telah menjadi bahan perbincangan publik yang terus bergulir tak tentu arah. Tulisan ini ingin sedikit memberi klarifikasi terhadap kesimpangsiuran berita yang mulai cenderung salah arah tersebut.
Penyerangan, Bukan Bentrok
Beberapa media tidak segan-segan menyebut tragedi ini “bentrokan” antara massa FPI dan AKKBB. Istilah bentrokan sungguh menyesatkan karena itu mengandaikan AKKBB juga terlibat dalam aksi kekerasan tersebut.
Faktanya, FPI menyerang massa AKKBB. Saat itu, acara belum dimulai. Sebagian massa AKKBB berada di pelataran Monas menunggu aksi longmarch yang akan dimulai dari kawasan belakang stasiun Gambir. Sambil menunggu massa AKKBB yang lain, massa yang ada di pelataran Monas tersebut duduk-duduk. Ketika massa FPI mendekat, massa AKKBB diperintahkan untuk duduk. Saya sendiri yang menyampaikan kepada massa untuk tidak terprovokasi, karena kami melihat massa FPI semakin dekat dan berteriak-teriak sambil mengancung-acungkan pentungan. Saya lalu meminta massa untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Belum sempat lagu kebangsaan itu dinyanyikan, massa FPI sudah menyerbu. Mereka memukul dengan pentungan bambu, meninju, menendang, menginjak-injak, sambil melontarkan sumpah serapah. Saya masih sempat menyeru massa AKKBB untuk tetap duduk, sebab kesepakatan kita, aksi ini adalah aksi damai. Kalau ada serangan fisik, maka kita akan duduk dan tidak melakukan perlawanan. Massa AKKBB memang patuh kepada kesepakatan, tidak ada satupun massa yang melakukan perlawanan. Tetapi karena serangan begitu massif, akhirnya massa AKKBB bubar menyelematkan diri. Ibu-ibu menangis, anak-anak menjerit ketakutan, puluhan orang menderita luka.
Tidak Ada Provokasi
Beberapa hari setelah tragedi, muncul pemberitaan bahwa massa AKKBB melakukan provokasi terlebih dahulu melalui orasi yang menyatakan bahwa massa penyerang itu adalah “laskar setan atau iblis.” Itu adalah dusta besar. Faktanya, acara belum dimulai. Orasi belum dilaksanakan. Yang ada hanyalah seruan kepada peserta AKKBB untuk duduk, untuk tidak terprovokasi, dan untuk menyanyikan lagu Indonesia raya. Dan tidak pernah ada bukti bahwa orasi provokasi benar-benar dilakukan oleh AKKBB.
Patut dicatat beberapa pernyataan dalam orasi-orasi pemimpin serangan FPI pada saat serangan telah dilakukan. Alfian Tanjung mengatakan di depan massa FPI: “Saya bangga dengan Anda semua yang telah melibas mereka dengan cepat.” Indikasi bahwa aksi ini dilakukan secara terencana dan dengan restu Riziq Shihab bisa dilihat dari pernyataan Alfian Tanjung selanjutnya: “Pada pertemuan terakhir kita dengan Habib Riziq, dia memegang tangan saya, “Ustadz Alfian, hari minggu siang kita perang.” Pada kesempatan itu, Alfian juga mengatakan bahwa mereka baru saja menang satu kosong, dan mereka akan terus menang sampai 1000 kosong.
Menjelang bubar, Munarman menyampaikan kepada massanya bahwa aksi mereka hari itu belum apa-apa: “Kita belum memenangkan pertempuran… Berikutnya kita akan datangi tempat-tempat mereka. Kita akan datangi yang namanya Goenawan Mohamad. Kita akan datangi yang namanya Asmara Nababan.” Munarman juga menyampaikan: “Sudah ada penyampaian baik dari polisi maupun intelijen kita yang menyatakan konsentrasi massa pembela-pembela Ahmadiyah itu sudah bubar. Tidak ada kegiatan di HI dan di depan RRI.”
Bukti-bukti orasi ini sangat penting untuk melihat FPI memang melakukan serangan secara terencana dan bukan insidental.
Baca entri selengkapnya »
Ditulis dalam Comments on News | Leave a Comment »